Teori interaksi sosial
Pengertian atau konsep yang saling
berhubungan dan disusun untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala sosial
itulah disebut “teori”.
Dalam sosiologi, teori-teori yang
menjelaskan interaksi sosial diantaranya sebagai berikut.
1.
Teori Interaksionisme Simbolik
Teori ini dikemukakan oleh George Herbert
Mead. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa
interaksi sosial menggunakan simbol-simbol atau tanda-tanda. Simbol menurut
tanda ini adalah sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh
seseorang yang mempergunakannya. Makna atau nilai tersebut bukan berasal
dari atau ditentukan oleh sifat-sifat atau bentuk fisik dari sesuatu tersebut,
melainkan berasal dari makna yang diberikan oleh seseorang yang menggunakannya,
Ada tiga pokok pikiran interaksionisme
dalam teori interaksionisme sim bolik:
1)
Manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing)
atau dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya .dengan
demikian tindakan seorang penganut agama tertentu terhadap sapi (thing) akan
berbeda dengan tindakan seseorang penganut agama lain karena tiap orang
memiliki makna (meaning) yang berlainan terhadap sapi tersebut.
2)
Makna yang dipunyai tersebut berasal atau muncul
dari interaksi sosial antara seseorang dan orang lain.
3)
Bahwa makna yang diperlukan atau diubah melalui
suatu proses penafsiran atau mengartikan, yang digunakan orang dalam menghadapi
sesuatu yang dijumpainya.
2.
Teori Definisi Situasi
Teori definisi situasi dikemukakan oleh
William I. Thomas pada tahun 1923. Menurut teori ini, seseorang tidak segera
memberikan interaksi ketika dia mendapat rangsangan dari luar. Tindakan
seseorang selalu didahului suatu tahap peniaian
dan pertimbangan. Rangsangan dari
luar dirinya diseleksi terlebih dahulu melalui proses yang dinamakan “pembuatan
definisi” atau “penafsiran situasi”. Selanjutnya, orang yang menerima
rangsangan atau tindakan dari luar memberi makna pada rangsangan yang
diterimanya itu.
Sesuai dengan teori ini William I. Thomas
mengemukakan ungkapannya yang terkenal, yaitu “bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka
konsekuensinya nyata”. Artinyabahwa definisisituasi yang dibuat orang akan
membawa konsekuensi nyata dalam tindakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan
dua macam definisi situasi, yaitu (1) definisi situasi yang dibuat secara
spontan oeh individu, dan (2) definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat,
keluarga, teman, atau komunitas.
3.
Teori Dramaturgi
Teori ini dikemukakan oleh Erving Goffman.
Secar ringkas teori dramaturgi didasarkan pada pandagan bahwa kehidupn sosial
dapat diibaratkan dengan serangkaian pertunjukan drama dalam sbuah pentas seni.
Dalam menggambarkan interaksi sosial, teori ini mengumpamakan pertunjukan seni
di panggung lengkap dengan bagian-bagiannya.
Menurut teori dramaturgi, interaksi sosial
berlangsung dalam bagian-bagian sebagai berikut:
·
Panggung depan yaitu bagian pertunjukan ysang
berfungsi mendefinisikan situasi penonton pertunjukan. Panggung dibagikan
menjadi dua bagian. Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang
aktor (pemain drama) memainkan perannya. Dan front personal yaitu berbagai
macam perlengkapan sebagai pembangun perasaan penonton dari sang aktor.
·
Panggung belakang yaitu ruang tempat berjalannya
skenario pertunjukkan oleh masyarakat rahasia atau sutradara yang mengatur
pementasan tiap aktor.
Jika disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari, manusia
adalah pelaku interaksi sosial (aktor) yang berusaha untuk menggabungkan
karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain mealui sebuah
pertunjukannya sendiri. Dalam mencapai tujuannya tersebut manusia akan
mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung peran yang dijalanakannya
tersebut untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan
jalannya mencapai tujuan.
Demikian sedikit yang bisa saya jelaskan tentang Teori Interaksi Smbolik. bagi yang mereshare kembali please sertakan credit, thank you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar