Rabu, 08 Oktober 2014

Teori interaksi sosial

Pengertian atau konsep yang saling berhubungan dan disusun untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala sosial itulah disebut  “teori”.
Dalam sosiologi, teori-teori yang menjelaskan interaksi sosial diantaranya sebagai berikut.
1.       Teori Interaksionisme Simbolik
Teori ini dikemukakan oleh George Herbert Mead. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa interaksi sosial menggunakan simbol-simbol atau tanda-tanda. Simbol menurut tanda ini adalah sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh seseorang yang mempergunakannya. Makna atau nilai tersebut bukan berasal dari atau ditentukan oleh sifat-sifat atau bentuk fisik dari sesuatu tersebut, melainkan berasal dari makna yang diberikan oleh seseorang yang menggunakannya,
Ada tiga pokok pikiran interaksionisme dalam teori interaksionisme sim bolik:
1)      Manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atau dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya .dengan demikian tindakan seorang penganut agama tertentu terhadap sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan seseorang penganut agama lain karena tiap orang memiliki makna (meaning) yang berlainan terhadap sapi tersebut.
2)      Makna yang dipunyai tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dan orang lain.
3)      Bahwa makna yang diperlukan atau diubah melalui suatu proses penafsiran atau mengartikan, yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya.
2.       Teori Definisi Situasi
Teori definisi situasi dikemukakan oleh William I. Thomas pada tahun 1923. Menurut teori ini, seseorang tidak segera memberikan interaksi ketika dia mendapat rangsangan dari luar. Tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap peniaian dan pertimbangan. Rangsangan dari luar dirinya diseleksi terlebih dahulu melalui proses yang dinamakan “pembuatan definisi” atau “penafsiran situasi”. Selanjutnya, orang yang menerima rangsangan atau tindakan dari luar memberi makna pada rangsangan yang diterimanya itu.
Sesuai dengan teori ini William I. Thomas mengemukakan ungkapannya yang terkenal, yaitu “bila orang mendefinisikan situasi sebagai hal yang nyata, maka konsekuensinya nyata”. Artinyabahwa definisisituasi yang dibuat orang akan membawa konsekuensi nyata dalam tindakannya.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan dua macam definisi situasi, yaitu (1) definisi situasi yang dibuat secara spontan oeh individu, dan (2) definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat, keluarga, teman, atau komunitas.
3.       Teori Dramaturgi
Teori ini dikemukakan oleh Erving Goffman. Secar ringkas teori dramaturgi didasarkan pada pandagan bahwa kehidupn sosial dapat diibaratkan dengan serangkaian pertunjukan drama dalam sbuah pentas seni. Dalam menggambarkan interaksi sosial, teori ini mengumpamakan pertunjukan seni di panggung lengkap dengan bagian-bagiannya.
Menurut teori dramaturgi, interaksi sosial berlangsung dalam bagian-bagian sebagai berikut:
·         Panggung depan yaitu bagian pertunjukan ysang berfungsi mendefinisikan situasi penonton pertunjukan. Panggung dibagikan menjadi dua bagian. Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang aktor (pemain drama) memainkan perannya. Dan front personal yaitu berbagai macam perlengkapan sebagai pembangun perasaan penonton dari sang aktor.
·         Panggung belakang yaitu ruang tempat berjalannya skenario pertunjukkan oleh masyarakat rahasia atau sutradara yang mengatur pementasan tiap aktor.
Jika disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari, manusia adalah pelaku interaksi sosial (aktor) yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain mealui sebuah pertunjukannya sendiri. Dalam mencapai tujuannya tersebut manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung peran yang dijalanakannya tersebut untuk meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi dan memuluskan jalannya mencapai tujuan.

Demikian sedikit yang bisa saya jelaskan tentang Teori Interaksi Smbolik. bagi yang mereshare kembali please sertakan credit, thank you :)